Notification

×

Iklan


Guru Besar Untad Jamaludin Sakung Ungkap Akar Masalah Stunting : Gizi dan Lingkungan

Selasa, 10 Maret 2026 | Maret 10, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-10T08:48:02Z
infoselebes.com, Palu – Wakil Wali Kota Palu Imelda Liliana Muhidin memimpin langsung kegiatan Rembuk Stunting Kota Palu yang digelar di Auditorium Kantor Wali Kota Palu, Selasa (10/3/2026). Forum tersebut menjadi bagian dari langkah strategis Pemerintah Kota Palu dalam memperkuat komitmen bersama guna mempercepat penurunan angka stunting.

Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah pemangku kepentingan yang terlibat dalam upaya penanganan stunting di Kota Palu. Di antaranya Guru Besar bidang kepakaran Biokimia Gizi Universitas Tadulako, Prof. Dr. Jamaludin Sakung, M.Kes, Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), perwakilan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palu, perwakilan BKKBN, para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), kepala puskesmas, serta berbagai unsur terkait lainnya.

Dalam arahannya, Imelda menegaskan bahwa rembuk stunting merupakan wujud keseriusan Pemerintah Kota Palu dalam menekan angka stunting melalui langkah-langkah yang terukur dan kolaboratif.

“Ini adalah kali kedua saya memimpin rapat rembuk stunting hari ini sebagai bagian dari upaya serius Pemerintah Kota Palu dalam menekan angka stunting,” ujar Imelda.

Menurutnya, forum tersebut menjadi momentum penting untuk mengevaluasi capaian penanganan stunting pada tahun sebelumnya sekaligus memperkuat strategi intervensi pada tahun berjalan.

Imelda menjelaskan, delapan kecamatan di Kota Palu menjadi fokus utama dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting. Para camat bersama unsur terkait diminta memaparkan perkembangan program di wilayah masing-masing, termasuk berbagai kendala yang dihadapi di lapangan.

Lebih lanjut, Wakil Wali Kota menekankan bahwa pendekatan penanganan stunting perlu diarahkan lebih kuat pada masa kehamilan. Perhatian terhadap ibu hamil dan calon ibu hamil dinilai menjadi kunci penting dalam mencegah lahirnya generasi dengan risiko stunting.

“Fokus penanganan stunting harus kita ubah, yaitu lebih menekankan pada masa kehamilan. Artinya perhatian kita harus lebih besar kepada ibu hamil dan calon ibu hamil,” jelasnya.

Melalui rembuk tersebut, Imelda berharap seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat komitmen bersama dalam menurunkan angka stunting di Kota Palu. Ia menegaskan bahwa upaya tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari kader posyandu, tenaga kesehatan di puskesmas, pemerintah kelurahan, hingga organisasi PKK.

“Tujuan rembuk stunting ini adalah membangun komitmen bersama seluruh stakeholder dalam pencegahan dan penurunan stunting,” katanya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya memperkuat kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan pihak swasta agar upaya percepatan penurunan stunting dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

Sementara itu, Guru Besar Biokimia Gizi Universitas Tadulako Prof. Dr. Jamaludin Sakung, M.Kes yang turut menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa penanganan stunting harus berfokus pada faktor penyebab langsung maupun tidak langsung.

Menurut Jamaludin, kunci utama dalam mengatasi stunting adalah penanganan kasus balita yang mengalami stunting melalui pendekatan berbasis determinan proksimal, yakni faktor yang berhubungan langsung dengan kondisi anak.

“Penanganan stunting harus fokus pada determinan proksimal seperti kecukupan asupan makanan dan penanganan penyakit infeksi pada anak,” ujarnya.
Selain itu, upaya pencegahan stunting juga harus dilakukan melalui pendekatan determinan distal, yaitu faktor tidak langsung yang memengaruhi kondisi gizi anak, seperti ketersediaan pangan, kecukupan asupan gizi, hingga kondisi lingkungan fisik yang sehat.

Ia juga menekankan pentingnya konsistensi komitmen pemerintah yang telah dicanangkan, agar benar-benar didukung oleh pelaksana program di lapangan sehingga intervensi yang dilakukan dapat tepat sasaran.

“Komitmen pemerintah harus didukung oleh pelaksana di lapangan agar setiap intervensi yang diberikan benar-benar tepat sasaran,” kata Jamaludin.

Dalam kesempatan itu, Wakil Wali Kota juga mengungkapkan bahwa pada tahun 2025 Kota Palu berhasil meraih penghargaan sebagai daerah dengan penurunan angka stunting terbaik. Atas capaian tersebut, pemerintah pusat memberikan dana insentif fiskal sebesar Rp6,1 miliar kepada Kota Palu.

Menurut Imelda, prestasi tersebut harus menjadi motivasi bagi seluruh pihak untuk terus meningkatkan kinerja serta memperkuat sinergi dalam menurunkan angka stunting di tahun 2026.

“Kita bekerja bukan hanya karena kewajiban, tetapi karena kepedulian kita terhadap masa depan anak-anak di Kota Palu. Mari kita bersama-sama memberikan yang terbaik bagi generasi penerus kita,” pungkasnya.
Iklan-ADS

close
Banner iklan disini