-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

iklan-popup

Iklan

Iklan-ADS

Tag Terpopuler

Pakaian Adat Tobungku Warnai Upacar Hardiknas di Morowali

Jumat, 13 Mei 2022 | Mei 13, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-05-13T08:02:39Z



infoselebes.com, Morowali- Pemerintahan Daerah Kabupaten Morowali menggelar Upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Bertempat di Halaman Kantor Bupati Morowali, Jumat (13/5/22). 

Peringatan tersebut tidak dilaksanakan sebagaimana tanggal semestinya 2 mei kemarin. Sebab bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri 1443 H dan Cuti Bersama, yang disampaikan melalui surat Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim, nomor 28254/MPK/TU.02.03/2022 tertanggal 22 April 2022. 

Upacara yang dipimpin oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Morowali, Drs. Yusman Mahbub, dan dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Morowali, Amir Aminudin S.Pd.,MM, dan kepala SKPD lainnya, Ketua Dewan Adat tobungku, Drs. Maidzun Ilwan Ridhwan, serta tamu undangan lainnya. 

Seluruh peserta Upacara di halaman Kantor Bupati mengenakan Pakain Adat. Sementara itu, Upacara diselenggarakan secara tatap muka terbatas dengan protokol kesehatan sejak pukul 08.00 WIB. Disebutkan juga dalam Pedoman Pelaksanaan Upacara Bendera Hardiknas 2022, tema tahun ini adalah "Pimpin Pemulihan Bergerak untuk Merdeka Belajar".



Dalam kesempatan tersebut, Bupati Morowali yang diwakili Sekda Morowali menyampaikan Pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia.

Bahwa kurikulum Merdeka, yang berawal dari upaya untuk membantu para guru dan murid di masa pandemi, terbukti mampu mengurangi dampak hilangnya pembelajaran. Kini Kurikulum Merdeka sudah diterapkan di lebih dari 140.000 satuan pendidikan di seluruh Indonesia.
Hal itu membuktikan ratusan ribu anak Indonesia sudah belajar dengan cara yang jauh lebih menyenangkan dan memerdekakan. 

Selain itu juga tidak perlu lagi khawatir dengan tes kelulusan karena Assessmen Nasional yang sekarang di gunakan, tidak bertujuan untuk "menghukum" guru atau murid. Namun sebagai bahan refleksi agar guru terus terdorong untuk belajar. Agar kepala sekolah termotivasi untuk meningkatkan kualitas sekolahnya menjadi lebih inklusif atau keterbukaan kelompok masyarakat untuk toleransi dan menghargai budaya.