infoselebes.com, Donggala – Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Donggala, Ansyar Sutiadi, menegaskan komitmennya untuk melaksanakan program rehabilitasi sekolah secara profesional dan transparan, sekaligus membantah tudingan yang menyebut dirinya mengarahkan proyek kepada vendor tertentu.
Menurut Ansyar, program rehabilitasi (Revit) merupakan bagian dari program prioritas pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, yang bertujuan memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan di seluruh Indonesia, termasuk di Kabupaten Donggala.
“Program Revit ini adalah program prioritas bapak Presiden Prabowo untuk memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan di Indonesia, khususnya di Kabupaten Donggala. Karena itu, kami ingin program ini dilaksanakan dengan sebaik mungkin,” ujar Ansyar, Rabu (29/4/2026).
Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil evaluasi tahun 2025, masih ditemukan sejumlah pekerjaan rehabilitasi sekolah yang tidak berjalan optimal, bahkan sebagian di antaranya bermasalah. Dari hasil peninjauan langsung di lapangan, salah satu penyebab utama adalah lemahnya perencanaan awal.
“Banyak sekolah yang tidak terlaksana dengan baik. Salah satu faktor penyebabnya adalah perencanaan. Ada kepala sekolah yang menyampaikan bahwa perencanaan awal hanya untuk rehab ringan, tetapi saat dikerjakan berubah menjadi rehab berat,” jelasnya.
Berdasarkan evaluasi tersebut, Disdikpora Donggala kemudian menugaskan tenaga perencana yang dinilai memiliki kemampuan teknis memadai agar pekerjaan rehabilitasi dapat berjalan sesuai standar yang ditetapkan.
Ansyar menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah mengarahkan pembelian material ke vendor tertentu. Ia hanya menekankan penggunaan material berkualitas dalam dokumen perencanaan sebagai standar mutu pembangunan.
“Kami tidak pernah mengarahkan ke vendor tertentu. Yang kami syaratkan hanya penggunaan material terbaik dalam perencanaan, seperti plafon menggunakan PVC, kusen aluminium, lantai keramik ukuran 60x60, dan mobiler pabrikan. Kata kuncinya adalah perencanaan yang baik,” tegasnya.
Namun demikian, Ansyar mengaku terkejut dengan munculnya informasi yang menyebut adanya dugaan korupsi dalam pelaksanaan program rehabilitasi tersebut, bahkan sebelum anggaran berjalan sepenuhnya.
“Ada informasi aduan korupsi yang membuat saya kaget. Belum ada uang, sudah dituduh korupsi. Apa yang dikorupsi? Ternyata berkembang isu bahwa saya mengarahkan perencana untuk membeli di satu vendor tertentu. Kapan saya atur dan apa yang saya arahkan?” ungkapnya.
Ia menilai tudingan tersebut sebagai fitnah yang tidak berdasar. Bahkan, Ansyar menyatakan akan mengambil langkah untuk menelusuri sumber informasi tersebut guna menjaga integritas pelaksanaan program rehabilitasi sekolah.
Ansyar juga meminta kepada seluruh kepala sekolah agar segera melaporkan jika ada pihak yang mengatasnamakan dirinya untuk meminta uang, setoran, atau melakukan intimidasi dalam pelaksanaan kegiatan rehabilitasi.
“Kalau ada yang mengatasnamakan saya, meminta uang, atau melakukan intimidasi, segera laporkan kepada saya. Jangan diam. Itu yang membuat saya kecewa, kenapa tidak dilaporkan,” katanya.
Terkait isu kedekatan dengan salah satu perencana yang disebut memiliki hubungan keluarga, Ansyar tidak menampik hal tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa penempatan yang bersangkutan dilakukan di wilayah yang jauh, tepatnya di Kecamatan Sojol, agar mudah dipantau dan tetap bekerja secara profesional.
Ia juga menegaskan bahwa dalam pelaksanaan program rehabilitasi sekolah, sistem yang digunakan adalah swakelola, sehingga tidak melibatkan kontraktor. Pekerjaan dilaksanakan langsung oleh kepala sekolah bersama perencana dan tim pembangunan sekolah.
“Dalam program Revit ini, swakelola hanya melibatkan kepala sekolah, perencana, dan tim pembangunan. Tidak ada kontraktor. Karena itu, kami minta bangun sekolah dengan baik, gunakan anggaran secara tepat, beli material berkualitas, dan libatkan tenaga kerja yang profesional,” pungkasnya. Alir
.jpeg)



