Kepala Dinas Perikanan Donggala, Ali Assegaf, menyampaikan bahwa Desa Lumbulama dipilih karena kondisi geografisnya yang berada di puncak gunung serta jauh dari akses jalan Trans Sulawesi, sehingga minim tersentuh program bantuan.
“Desa Lumbulama ini termasuk daerah terpencil, dengan tantangan akses yang cukup berat. Namun, justru karena itu kami hadir untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan pelayanan,” ujar Ali Assegaf, Kamis (30/4/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan data dari Dinas Keluarga Berencana yang kini telah bergabung dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, terdapat sebanyak 195 kepala keluarga di desa tersebut yang masuk kategori berisiko stunting. Data tersebut juga diperkuat oleh Bappeda yang mencatat sebagian warga masuk dalam kelompok miskin ekstrem, khususnya di Dusun 1 dan Dusun 2.
Menindaklanjuti arahan Bupati Donggala, Vera Elena Laruni, seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) diminta untuk bergerak cepat memberikan pelayanan kepada masyarakat, terutama bagi keluarga berisiko stunting dan kelompok miskin ekstrem.
“Bantuan yang kami salurkan berupa bahan baku ikan segar dan paket olahan, menyasar langsung 195 keluarga yang telah terdata,” jelasnya.
Ali juga menggambarkan medan yang harus ditempuh timnya untuk mencapai lokasi. Menurutnya, kondisi Desa Lumbulama hampir serupa dengan Kecamatan Pinembani yang dikenal sulit diakses.
“Setiap dusun berjarak cukup jauh, bisa mencapai sekitar lima kilometer, dan untuk berpindah dari satu dusun ke dusun lain harus melewati jalur pegunungan. Ini menjadi tantangan tersendiri,” ungkapnya.
Meski demikian, pihaknya memastikan seluruh dusun di Desa Lumbulama yang berjumlah enam dusun berhasil dijangkau. Tim bahkan mampu mencapai titik nol di kantor desa sebagai pusat pelayanan.
“Alhamdulillah, semua dusun bisa kami sentuh. Ini adalah bagian dari komitmen pelayanan kepada masyarakat, sekaligus menjalankan arahan Ibu Bupati agar tidak ada wilayah yang terlewat,” tutup Ali. Alir




