infoselebes.com, Donggala – Penolakan terhadap aktivitas tambang di wilayah Desa Labuan Lumbubaka, Kecamatan Labuan, Kabupaten Donggala, terus menguat. Warga bersama sejumlah elemen masyarakat memasang baliho penolakan sebagai bentuk aspirasi dan kekhawatiran atas potensi bencana lingkungan yang dapat kembali terjadi.
Ketua DPD LIN Sulawesi Tengah, Lukman Hadi, mengatakan masyarakat hingga kini masih mengalami trauma mendalam akibat banjir bandang yang terjadi beberapa bulan lalu.
“Beberapa bulan lalu hujan lebat mengakibatkan banjir bandang yang menghancurkan infrastruktur, termasuk jembatan gantung Lumbubaka. Arus banjir menyapu perkampungan, lahan pertanian, persawahan, bahkan menghanyutkan tiga rumah warga di Desa Wani,” ujar Lukman Hadi, Rabu (13/5/2026).
Menurutnya, bencana tersebut menyebabkan kerugian material yang cukup besar dan meninggalkan rasa takut di tengah masyarakat. Banyak warga kini merasa cemas setiap kali hujan deras turun, terutama pada malam hari.
“Dulu kalau hujan tengah malam masyarakat bisa tidur nyenyak. Sekarang kalau hujan deras turun, warga langsung keluar rumah karena takut banjir bandang kembali datang,” katanya.
Lukman menilai, aktivitas tambang dengan penggunaan alat berat seperti ekskavator berpotensi memperbesar risiko kerusakan lingkungan dan memicu bencana serupa di kemudian hari.
“Kalau galian biasa saja bisa merusak, apalagi tambang yang menggunakan alat berat. Risikonya tentu lebih besar terhadap lingkungan dan keselamatan masyarakat,” tegasnya.
Ia meminta pemerintah mendengarkan aspirasi masyarakat yang menolak keberadaan tambang, khususnya tambang ilegal, demi menjaga keselamatan lingkungan dan masa depan generasi mendatang.
“Kami hanya ingin hidup aman dan tenang bersama anak cucu kami. Jangan sampai jeritan masyarakat yang trauma akibat banjir bandang tidak didengar pemerintah,” ujarnya.
Pemasangan baliho penolakan tambang, lanjutnya, merupakan bentuk harapan masyarakat agar pemerintah segera merespons keresahan warga terkait rencana maupun aktivitas pertambangan di wilayah tersebut.
“Suara rakyat harus didengar. Kami berharap pemerintah merespons penolakan masyarakat terhadap adanya tambang di Desa Labuan Lumbubaka,” pungkasnya. Alir




